Transformasi Digital untuk Kampus Bebas Kekerasan Seksual: Satgas STIKES BINA BANGSA MAJENE Ikuti Workshop di IBLAM


Jakarta, Jumat 19 September 2025 — Tim Satgas PPKPT STIKES BINA BANGSA MAJENE yang terdiri dari Pandu, Melani, Klariska, Agnes, Fariha, dan Galuh turut hadir dalam Workshop Hibah PDP 2025 bertajuk "Transformasi Digital dalam Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus: Dengan Pendekatan Kebijakan Feminis Studi Kasus Peran Satgas PPKPT di Perguruan Tinggi”. Acara ini diselenggarakan di Kampus IBLAM, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan menghadirkan narasumber dari LLDikti Wilayah III dan Komunitas Jejak Psikologi Forensik.

Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama antar kampus untuk memahami lebih dalam bagaimana kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan dapat dicegah maupun ditangani. Paparan para narasumber menekankan bahwa isu ini bukan sekadar masalah individu, melainkan menyangkut budaya, sistem, dan kebijakan kampus.

Materi seminar menyoroti beberapa poin penting:

  • Mengenal bentuk-bentuk kekerasan seksual, yang bisa terjadi di kampus, mulai dari pelecehan verbal, non-verbal, hingga kekerasan berbasis daring (cyber harassment).
  • Hambatan korban dalam melapor, seperti rasa takut, malu, stigma, kurangnya dukungan, serta victim blaming yang sering muncul di lingkungan akademik.
  • Strategi perlindungan korban, mencakup pendampingan psikologis, pendampingan hukum, dan kebijakan perlindungan berkelanjutan agar korban tidak semakin tertekan.
  • Crisis Response System (CRS), sebagai inovasi digital yang mempermudah pelaporan kasus kekerasan seksual dengan menjaga privasi dan keamanan data korban.
  • Peran Satgas PPKPT di kampus, yaitu pencegahan, pelayanan, dan penanganan. Satgas dituntut bukan hanya merespons, tapi juga aktif melakukan edukasi dan membangun kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa maupun dosen.
  • Kebijakan feminis dalam penanganan kasus, yang menekankan perspektif keberpihakan pada korban, kesetaraan gender, dan keadilan restoratif.

Dalam paparannya, Taufan Setyo Pranonggo, S.Kom., M.Si., menegaskan bahwa kampus harus jadi ruang aman bagi mahasiswa untuk belajar, bukan tempat suburnya praktik kekerasan. Sementara itu, Lucy Lidiawati Santioso, S.Psi., M.H., menjelaskan anatomi kasus kekerasan seksual dan pentingnya dukungan multidisipliner bagi korban.

Partisipasi Satgas PPKPT STIKES BINA BANGSA MAJENE dalam workshop ini bukan hanya sekadar hadir, melainkan juga sebagai wujud komitmen nyata untuk memperkuat kapasitas tim dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual maupun bullying. Selama kegiatan, tim juga berkesempatan bertemu dengan anggota Satgas dari berbagai perguruan tinggi lain. Momen ini menjadi ajang ramah tamah, bertukar pengalaman, serta saling memberi wawasan baru mengenai strategi penanganan kasus. Pertukaran insight tersebut memperkaya perspektif sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas kampus di masa mendatang.

Dengan mengikuti Workshop tersebut, STIKES BINA BANGSA MAJENE semakin memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, berintegritas, serta berpihak pada korban. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari kegiatan ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan kampus maupun kegiatan edukasi mahasiswa. Dengan demikian, lulusan STIKES BINA BANGSA MAJENE tidak hanya unggul dalam bidang keperawatan dan kesehatan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, keberanian moral, dan kemampuan profesional untuk menciptakan ruang belajar yang bebas dari kekerasan di tingkat nasional maupun internasional.

Sosial Media